Ciprofloxacin adalah antibiotik yang kuat dan termasuk dalam kelas fluoroquinolone. Dokter sering meresepkan obat ini untuk mengobati berbagai jenis infeksi bakteri di tubuh, seperti infeksi saluran kemih, infeksi pernapasan, infeksi saluran pencernaan, infeksi kulit, dan beberapa jenis infeksi menular seksual. Anda hanya boleh menggunakan ciprofloxacin untuk mengobati infeksi bakteri, karena obat ini tidak berfungsi melawan virus.
Untuk membantu Anda menggunakan obat ini dengan aman dan efektif, artikel ini menjelaskan bagaimana ciprofloxacin bekerja di dalam tubuh Anda dan apa saja efek samping yang mungkin Anda alami. Untuk setiap efek samping, Anda akan mengetahui bagaimana rasanya, seberapa sering itu terjadi, bagaimana ciprofloxacin menyebabkannya, dan bagaimana Anda dapat mengurangi risikonya.
Obat ciprofloxacin sering dijual dengan nama merk seperti Ciflox, Ciprofloxacin Zentiva, Ciprofloxacin Think, Ciproxin, Ciloxan, Cetraxal, atau Baycip.

Bagaimana ciprofloxacin membunuh bakteri
Ciprofloxacin bekerja dengan menargetkan enzim spesifik yang diperlukan bakteri untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Enzim ini disebut DNA gyrase dan topoisomerase IV. Bakteri bergantung pada enzim ini untuk membuka dan menggulung kembali DNA mereka selama pembelahan sel. Ketika Anda mengonsumsi obat ciprofloxacin, ia menghambat aktivitas enzim ini, yang menghentikan bakteri dari menggandakan DNA mereka. Akibatnya, bakteri tidak dapat tumbuh atau berkembang biak, dan pada akhirnya mereka mati.
Ciprofloxacin tidak merusak DNA Anda sendiri karena sel-sel manusia tidak menggunakan enzim yang sama. Selektivitas ini adalah salah satu alasan mengapa ciprofloxacin efektif sebagai antibiotik. Namun, obat ini tetap bisa menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan di tubuh Anda karena cara ia berinteraksi dengan jaringan tertentu, terutama saraf, sendi, dan tendon.
Efek samping umum obat ciprofloxacin
1. Mual dan muntah
Anda mungkin merasa mual atau muntah, terutama dalam beberapa hari pertama setelah mengonsumsi obat ciprofloxacin.
Ciprofloxacin dapat mengiritasi lapisan lambung dan mengubah keseimbangan bakteri usus, yang mempengaruhi sinyal pencernaan ke otak dan memicu mual. Obat ini juga dapat mempengaruhi saraf vagus, yang membantu mengatur gerakan lambung.
Frekuensi terjadinya: Mual terjadi pada sekitar 2–5% orang yang mengonsumsi obat ciprofloxacin.
Pencegahan: Untuk mengurangi risiko, konsumsi ciprofloxacin bersama makanan atau segelas susu (tetapi hindari makanan kaya kalsium). Jangan berbaring segera setelah mengonsumsi obat ini.
2. Diare
Setelah mengonsumsi obat ciprofloxacin, Anda mungkin mengalami tinja yang encer atau berair, yang kadang-kadang dapat menjadi parah.
Dengan membunuh bakteri berbahaya dan bermanfaat di usus Anda, ciprofloxacin mengganggu keseimbangan bakteri alami. Gangguan ini memungkinkan bakteri yang kurang ramah, seperti Clostridioides difficile, untuk tumbuh secara berlebihan dan mengiritasi lapisan usus besar.
Frekuensi terjadinya: Diare terjadi pada sekitar 2–6% orang yang menggunakan ciprofloxacin. Dalam kasus yang jarang, infeksi Clostridioides difficile dapat terjadi dan memerlukan pengobatan terpisah.
Pencegahan: Anda dapat mengonsumsi probiotik selama dan setelah pengobatan antibiotik, tetapi pisahkan setidaknya 2 jam dari dosis ciprofloxacin. Minumlah banyak air dan cari bantuan medis jika diare menjadi parah atau mengandung darah.
3. Nyeri tendon atau robek tendon
Anda mungkin merasakan nyeri mendadak, pembengkakan, atau kekakuan di tendon (paling umum di tendon Achilles dekat tumit), dan dalam kasus yang jarang, tendon dapat robek.
Ciprofloxacin melemahkan struktur tendon karena menyebabkan gangguan pembentukan kolagen dan meningkatkan aktivitas enzim yang memecah jaringan tendon. Obat ini juga mengurangi pasokan darah ke tendon dan mengganggu mekanisme perbaikan.
Frekuensi terjadinya: Efek samping ini jarang terjadi—sekitar 0,1% dari orang yang mengonsumsi obat ciprofloxacin—tetapi risikonya lebih tinggi pada orang yang berusia di atas 60 tahun, mereka yang menggunakan kortikosteroid, dan orang-orang dengan transplantasi ginjal, jantung, atau paru-paru.
Pencegahan: Hindari latihan berat atau gerakan tiba-tiba saat mengonsumsi obat ciprofloxacin. Jika Anda merasakan nyeri tendon, hentikan penggunaan obat segera dan konsultasikan dengan dokter Anda.

4. Nyeri sendi atau nyeri otot
Anda mungkin mengalami nyeri sendi, nyeri otot, atau kekakuan otot selama atau segera setelah mengonsumsi obat ciprofloxacin.
Ciprofloxacin dapat meningkatkan peradangan di jaringan ikat dan mengganggu produksi energi mitokondria di sel otot. Proses ini menyebabkan ketidaknyamanan atau nyeri.
Frekuensi terjadinya: Sekitar 1–2% pengguna obat ciprofloxacin melaporkan nyeri sendi atau nyeri otot.
Pencegahan: Istirahatkan otot dan sendi Anda selama pengobatan dengan ciprofloxacin. Jika nyeri menjadi intens atau berlanjut, bicaralah dengan dokter Anda untuk beralih ke antibiotik lain.
5. Efek pada sistem saraf pusat (misalnya, kecemasan, insomnia, kebingungan)
Anda mungkin merasa cemas, gelisah, bingung, atau mengalami kesulitan tidur setelah mengonsumsi obat ciprofloxacin.
Ciprofloxacin dapat melewati sawar darah-otak dan mengganggu aktivitas GABA (asam gamma-aminobutirat) – suatu neurotransmitter yang menenangkan aktivitas otak. Aktivitas GABA yang menurun menyebabkan overstimulasi, yang mengakibatkan kecemasan atau insomnia.
Frekuensi terjadinya: Efek samping pada sistem saraf pusat terjadi pada 1–4% orang yang mengonsumsi obat ciprofloxacin; insomnia dan gelisah terjadi lebih sering dibandingkan kebingungan.
Pencegahan: Hindari konsumsi kafein dan alkohol saat menggunakan ciprofloxacin, karena kafein dan alkohol dapat memperburuk gejala sistem saraf. Beri tahu dokter Anda jika Anda memiliki riwayat kejang, kecemasan, atau kondisi psikiatris sebelum mengonsumsi obat ini.
6. Kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari
Anda mungkin mengalami reaksi seperti terbakar matahari meskipun hanya dengan paparan sinar matahari yang terbatas.
Ciprofloxacin meningkatkan produksi spesies oksigen reaktif (ROS) di kulit Anda ketika terpapar sinar UV. ROS ini merusak sel kulit dan menyebabkan peradangan.
Frekuensi terjadinya: Efek samping ini jarang terjadi dan terjadi pada kurang dari 1% pengguna ciprofloxacin, tetapi dapat parah dalam beberapa kasus.
Pencegahan: Hindari sinar matahari langsung dan tempat berjemur saat mengonsumsi obat ciprofloxacin. Gunakan tabir surya dengan SPF tinggi dan kenakan pakaian pelindung jika Anda harus keluar rumah.

7. Irama jantung abnormal (perpanjangan QT)
Anda mungkin merasakan palpitasi, pusing, atau pingsan jika irama jantung menjadi tidak teratur.
Ciprofloxacin memblokir saluran kalium di sel-sel otot jantung, yang memperpanjang siklus listrik dari setiap detak jantung (disebut interval QT). Interval QT yang diperpanjang dapat menyebabkan aritmia berbahaya seperti torsades de pointes.
Frekuensi terjadinya: Efek samping ini jarang terjadi (kurang dari 0,1%) tetapi lebih mungkin terjadi jika Anda mengambil obat lain yang mempengaruhi irama jantung atau memiliki ketidakseimbangan elektrolit.
Pencegahan: Hindari penggunaan ciprofloxacin dengan obat lain yang memperpanjang QT, seperti beberapa antidepresan atau antiaritmia. Pastikan tingkat kalium dan magnesium Anda normal, terutama jika Anda mengonsumsi diuretik.
8. Reaksi alergi
Anda mungkin mengalami ruam kulit, gatal, pembengkakan, atau kesulitan bernapas jika Anda alergi terhadap ciprofloxacin.
Sistem kekebalan tubuh Anda mungkin secara keliru mengenali ciprofloxacin sebagai zat berbahaya dan melepaskan histamin serta bahan kimia lainnya. Reaksi ini menyebabkan peradangan, ruam kulit, atau bahkan anafilaksis.
Frekuensi terjadinya: Reaksi alergi terjadi pada kurang dari 1% orang yang mengonsumsi obat ciprofloxacin, tetapi anafilaksis adalah keadaan darurat medis.
Pencegahan: Beri tahu dokter Anda jika Anda pernah mengalami reaksi alergi terhadap antibiotik fluoroquinolone. Jika Anda melihat pembengkakan, ruam kulit, atau kesulitan bernapas setelah mengonsumsi obat ciprofloxacin, segera cari bantuan medis.
Ciprofloxacin adalah antibiotik yang sangat efektif untuk mengobati infeksi bakteri serius, tetapi dapat menyebabkan efek samping yang berkisar dari ringan hingga serius. Sebelum mulai mengonsumsi obat ini, Anda harus memberi tahu dokter tentang kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya atau obat lain yang Anda konsumsi.


