Nyeri perut setelah buang air besar: Penyebab, diagnosis, dan pengobatan

Nyeri abdomen setelah buang air besar adalah gejala yang dapat muncul akibat berbagai penyakit di sistem pencernaan, organ panggul, atau bahkan sistem saraf. Rasa sakit mungkin muncul segera setelah buang air besar atau dalam waktu 10-30 menit, dan dapat terasa tajam, kram, atau tumpul. Memahami penyebabnya sangat penting karena masalah yang mendasari dapat berkisar dari gangguan pencernaan ringan hingga penyakit yang lebih serius.

Nyeri perut setelah buang air besar: Penyebab, diagnosis, dan pengobatan
Nyeri abdomen setelah buang air besar

Memahami nyeri setelah buang air besar

Ketika Anda buang air besar, rektum dan usus besar berkontraksi untuk mengeluarkan tinja. Kontraksi ini membutuhkan gerakan otot yang kuat dan rangsangan saraf usus. Setelah tinja lewat, rektum dan anus Anda mungkin masih bereaksi terhadap perubahan tekanan, sensitivitas saraf, atau peradangan. Dalam beberapa kondisi, reaksi ini memicu ketidaknyamanan atau nyeri perut.

Rasa sakit juga dapat muncul jika usus atau rektum Anda teriritasi, meradang, atau terlalu sensitif terhadap peregangan. Saraf yang mengirimkan sinyal ke atau melayani bagian bawah usus terhubung dengan organ panggul dan abdomen terdekat, sehingga rasa sakit juga dapat menjalar ke area lain.

Penyebab umum nyeri abdomen setelah buang air besar

1. Sindrom iritasi usus (Irritable Bowel Syndrome)

Sindrom iritasi usus adalah penyebab paling umum dari nyeri abdomen setelah buang air besar. Dalam sindrom ini, otot dan saraf usus sangat sensitif. Hipersensitifitas ini menyebabkan kram atau nyeri setelah buang air besar, terutama ketika usus besar berkontraksi terlalu kuat atau mengosongkan diri terlalu cepat.

  • Sindrom iritasi usus: Komunikasi otak-usus yang tidak normal membuat usus lebih reaktif terhadap rangsangan normal seperti buang air besar atau gas.
  • Gejala yang menyertai: Konstipasi dan diare bergantian, kembung perut, lendir dalam tinja, dan merasa tidak tuntas saat buang air besar.
  • Rasa sakit seringkali membaik atau memburuk setelah buang air besar bergantung pada jenis sindrom iritasi usus yang dialami.

2. Penyakit radang usus

Penyakit Crohn dan kolitis ulserativa menyebabkan peradangan kronis pada dinding usus. Jaringan yang meradang menjadi bengkak dan mengalami luka, mengakibatkan rasa sakit sebelum dan setelah buang air besar.

  • Gejala yang menyertai: Diare dengan darah atau lendir, penurunan berat badan, kelelahan, dan demam.
  • Lokasi nyeri: Biasanya di perut bagian bawah.
Penyakit radang usus
Penyakit radang usus

3. Wasir dan fisura anal

Nyeri mungkin tidak hanya disebabkan oleh sesuatu di dalam perut Anda, tetapi juga dari saluran anal.

  • Wasir: Pembuluh darah yang bengkak di sekitar anus dapat menjadi nyeri atau kejang setelah buang air besar, terutama jika tinja keras.
  • Fisura anal: Robekan kecil pada lapisan anal menyebabkan nyeri terbakar setelah buang air besar yang dapat berlangsung 2-3 jam.

Kedua kondisi ini dapat menyebabkan munculnya darah segar pada tisu toilet atau dalam tinja.

4. Hipersensitivitas rektum

Beberapa orang mengalami nyeri setelah buang air besar tanpa adanya kelainan yang terlihat. Nyeri ini dapat terjadi akibat hipersensitivitas saraf di rektum atau otot dasar panggul.

  • mekanisme: Saraf dalam rektum mengirimkan sinyal nyeri yang diperkuat setelah peregangan atau melewati tinja, bahkan ketika tidak ada peradangan.
  • Gejala: Nyeri dalam atau kram di rektum atau perut bagian bawah, seringkali bersifat sementara tetapi kembali muncul.

5. Konstipasi dan tinja keras

Ketika tinja terlalu lama berada di usus besar Anda, tinnya menjadi keras dan besar, meregangkan dinding usus Anda. Tekanan saat mendorong tinja keras dapat mengiritasi atau memar rektum Anda dan memicu nyeri setelah buang air besar.

6. Endometriosis (pada wanita)

Endometriosis dapat mempengaruhi permukaan rektum atau usus, menyebabkan nyeri yang memburuk saat buang air besar, terutama saat menstruasi.

  • Jaringan endometrial ektopik menjadi meradang dan berdarah akibat perubahan hormonal, mengiritasi saraf usus terdekat.
  • Gejala yang menyertai: Nyeri saat menstruasi, nyeri panggul, nyeri saat berhubungan seks, dan infertilitas.

7. Infeksi dan peradangan pada usus besar atau rektum

Infeksi bakteri atau parasit, seperti infeksi dengan Salmonella, Shigella, atau Entamoeba histolytica, dapat meradang mukosa usus. Buang air besar dapat menyebabkan nyeri tajam.

Gejala yang menyertai: Demam, diare, lendir, darah, dan kebutuhan mendesak untuk buang air besar.

8. Disfungsi dasar panggul

Jika otot dasar panggul Anda tidak dapat rileks dengan baik saat buang air besar, maka proses melewati tinja menjadi sulit dan menyakitkan. Tekanan ini dapat menyebabkan nyeri di perut bagian bawah atau panggul setelahnya.

9. Kanker usus besar atau tumor rektal

Dalam kasus yang jarang terjadi, tumor di usus besar atau rektum dapat menyebabkan nyeri setelah buang air besar akibat penyumbatan sebagian atau ulserasi dari dinding usus.

Tanda peringatan: Perubahan kebiasaan buang air besar, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, darah dalam tinja, dan kelelahan yang persisten.

Diagnosis nyeri abdomen setelah buang air besar

Karenanya banyak kondisi yang dapat menyebabkan nyeri ini, diagnosis memerlukan evaluasi medis yang cermat.

1. Tinjauan riwayat medis dan pemeriksaan fisik

  • Dokter Anda akan bertanya tentang waktu, lokasi nyeri, konsistensi tinja, dan gejala yang menyertai (darah, kembung, demam, atau penurunan berat badan).
  • Pemeriksaan rektal digital mungkin dilakukan untuk memeriksa adanya wasir, fisura anal, atau kelainan tonus otot.

2. Tes laboratorium

  • Pemeriksaan darah untuk mendeteksi peradangan, infeksi, atau anemia.
  • Analisis tinja untuk mendeteksi infeksi, parasit, atau darah.

3. Pemeriksaan pencitraan dan endoskopik

  • Kolonoskopi atau sigmoidoskopi: Untuk melihat usus besar dan rektum langsung serta memeriksa adanya peradangan, ulkus, atau tumor.
  • Ultrasonografi atau pencitraan resonansi magnetik (pada wanita): Untuk mendeteksi endometriosis atau kelainan panggul.
  • Pemindaian tomografi terkomputasi: Untuk mengevaluasi peradangan usus atau abses.

4. Tes fungsional

  • Tes pengeluaran balon atau manometri anorektal dapat digunakan untuk menilai disfungsi dasar panggul atau sensitivitas rektum.

Pengobatan nyeri abdomen setelah buang air besar

Pengobatan tergantung pada penyebab yang mendasarinya tetapi umumnya mencakup perubahan gaya hidup, obat-obatan, dan terkadang pembedahan.

1. Langkah diet dan gaya hidup

  • Makan makanan tinggi serat dengan buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian utuh untuk mencegah konstipasi.
  • Minum cukup air untuk menjaga kelembutan tinja.
  • Hindari makanan pemicu yang memperburuk gejala (makanan berlemak, pedas, atau pembentuk gas).
  • Berlatih olahraga teratur untuk merangsang gerakan usus.
  • Kelola stres, karena kecemasan dapat memperburuk sensitivitas usus dan sindrom iritasi usus.

2. Obat-obatan

  • Untuk sindrom iritasi usus: Obat antispasmodik (seperti mebeverine atau hioscin), obat antidepresan yang diarahkan ke usus, dan probiotik.
  • Untuk penyakit radang usus: Obat anti-inflamasi (seperti mesalazine), obat kortikosteroid, atau agen biologis.
  • Untuk konstipasi: Obat laksatif osmotik atau pembentuk massa (seperti laktulosa atau psyllium).
  • Untuk fisura anal atau wasir: Obat anestesi topikal, salep nitrogliserin, atau krim kortikosteroid.
  • Untuk infeksi: Obat antibiotik atau antiparasit yang sesuai.

3. Terapi fisik dan pengobatan perilaku

Untuk disfungsi dasar panggul, terapi umpan balik bio dan pelatihan relaksasi dapat membantu Anda mengkoordinasikan otot selama buang air besar.

4. Opsi bedah

Jika Anda memiliki fisura anal kronis, wasir berat, atau penyakit usus struktural (seperti penyempitan atau tumor), pembedahan mungkin diperlukan.

Kapan Anda perlu pergi ke dokter?

Anda perlu mencari perawatan medis jika:

  • Nyeri berlangsung lebih dari 4-5 hari atau memburuk.
  • Anda melihat darah atau lendir dalam tinja Anda.
  • Anda mengalami demam, penurunan berat badan yang tidak disengaja, atau kelelahan.
  • Anda merasa buang air besar tidak tuntas atau ada benjolan di rektum.

Nyeri abdomen setelah buang air besar adalah gejala, bukan penyakit. Diagnosis memerlukan identifikasi penyebab yang tepat melalui evaluasi yang cermat, dan pengobatan berfokus pada memperbaiki penyebab tersebut sambil mengurangi ketidaknyamanan.

spot_imgspot_img

Artikel Terkait

spot_img

Artikel Terbaru