Crestor adalah nama dagang untuk kalsium rosuvastatin – obat yang termasuk dalam kelas statin (inhibitor HMG-CoA reduktase).
Dokter meresepkan obat Crestor untuk menurunkan kolesterol LDL (“kolesterol jahat”), meningkatkan kolesterol HDL (“kolesterol baik”), dan mengurangi kadar trigliserida. Obat ini juga digunakan untuk memperlambat perkembangan aterosklerosis, mengurangi risiko serangan jantung dan stroke, serta mengurangi kebutuhan akan prosedur kardiovaskular tertentu pada orang yang memiliki risiko kardiovaskular tinggi.

Rosuvastatin dianggap sebagai salah satu obat statin yang paling kuat. Studi klinis telah menunjukkan bahwa terapi rosuvastatin berintensitas tinggi dapat menurunkan kolesterol LDL hingga sekitar 50% hingga 63%, tergantung pada dosis harian.
Bagaimana cara kerja obat Crestor (rosuvastatin)?
Hati kita memproduksi kolesterol melalui jalur metabolisme yang tergantung pada enzim yang disebut 3-hydroxy-3-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reduktase.
Rosuvastatin memblokir enzim ini, sehingga mengurangi produksi kolesterol di dalam sel hati. Ketika kadar kolesterol di hati menurun, hati bereaksi dengan memproduksi lebih banyak reseptor LDL di permukaannya. Reseptor tambahan ini menghilangkan lebih banyak kolesterol LDL dari aliran darah.
Beberapa efek positif terjadi secara bersamaan: penurunan kadar kolesterol LDL dan trigliserida, peningkatan moderat dalam kolesterol HDL, stabilisasi plak kolesterol, pengurangan peradangan dalam pembuluh darah, dan penurunan risiko penyumbatan pembuluh darah.
Tingkat kolesterol biasanya menurun dalam dua hingga empat minggu setelah Anda mulai mengonsumsi obat ini.
Efek samping obat Crestor (rosuvastatin)
Efek samping umum dari Crestor adalah:
- Nyeri otot (mialgia)
- Sakit kepala
- Nyeri perut
- Konstipasi
- Mual
- Pusing
- Kelelahan
- Nyeri sendi
- Peningkatan enzim hati
- Protein dalam urin (biasanya sementara)
- Darah dalam urin (jarang)
- Peningkatan kadar gula darah yang ringan.
Efek samping yang jarang tetapi serius dari Crestor adalah:
- Miopati
- Rabdomiolisis
- Kerusakan hati
- Diabetes baru yang muncul
- Reaksi alergi
- Miopati nekrotik imun
- Masalah memori atau kebingungan (jarang)
- Reaksi kulit yang parah (sangat jarang).
Berikut, kami menjelaskan efek samping dan memberikan panduan tentang cara menghindari atau menguranginya.
1. Nyeri otot
Nyeri otot adalah efek samping yang paling sering dilaporkan dari obat statin.
Penyebabnya bisa jadi karena rosuvastatin mengurangi produksi senyawa yang berbagi jalur sintesis kolesterol, termasuk koenzim Q10 (CoQ10). Konsentrasi CoQ10 yang lebih rendah dapat mengurangi produksi energi di dalam sel otot.
Peneiliti juga menduga bahwa obat statin dapat mempengaruhi membran sel otot, pengaturan kalsium, dan fungsi mitokondria.
Kira-kira 10% orang yang mengkonsumsi obat Crestor (rosuvastatin) mengalami nyeri otot. Untuk mencegah efek samping ini, Anda harus mengonsumsi hanya dosis yang diresepkan, menghindari penggunaan obat yang tidak perlu yang berinteraksi dengan rosuvastatin, minum cukup air, membatasi konsumsi alkohol, dan segera melaporkan kepada dokter jika mengalami nyeri otot. Tanyakan kepada dokter Anda apakah Anda bisa mengonsumsi dosis yang lebih rendah atau beralih ke obat statin yang berbeda.
Sebagian besar kasus nyeri otot ringan membaik setelah mengurangi dosis atau mengganti obat.
2. Miopati dan rabdomiolisis
Miopati adalah cedera otot yang disertai dengan peningkatan kreatinin kinase (CK). Rabdomiolisis adalah bentuk parah dari kerusakan otot yang dapat merusak ginjal.
Cedera otot yang parah tampaknya merupakan hasil dari disfungsi mitokondria yang mendalam dan gangguan integritas sel otot. Serat otot yang rusak melepaskan protein, elektrolit, dan myoglobin ke dalam aliran darah.
Jumlah myoglobin yang besar dapat menghalangi tubulus ginjal dan menyebabkan cedera ginjal akut.
Untungnya, cedera otot yang parah adalah jarang. Miopati terjadi pada 0,1% hingga 0,2% orang yang menggunakan obat Crestor; rabdomiolisis terjadi pada sekitar 2 kasus per 100.000 pengguna obat per tahun.
Tetapi risikonya lebih tinggi pada orang yang mengonsumsi dosis yang lebih tinggi, terutama 40 mg, serta pada orang dewasa yang lebih tua, orang dengan penyakit ginjal atau hipotiroidisme yang tidak diobati, dan pada mereka yang mengonsumsi obat tertentu yang berinteraksi dengan Crestor.
3. Sakit kepala
Peneiliti percaya bahwa perubahan ringan dalam fungsi pembuluh darah atau adaptasi sementara terhadap perubahan metabolisme kolesterol dapat berkontribusi menyebabkan sakit kepala.
Kira-kira 5% orang yang mengkonsumsi obat Crestor (rosuvastatin) mengalami sakit kepala.
Anda dapat mengurangi sakit kepala dengan:
- Minum cukup air
- Cukup tidur
- Memperbatasi konsumsi alkohol
- Minum obat pereda nyeri jika diperlukan dan diizinkan oleh dokter Anda.
Sakit kepala sering mereda setelah 3-4 minggu.
4. Masalah pencernaan
Kira-kira 3% orang yang mengkonsumsi obat Crestor mengalami gejala pencernaan, seperti nyeri perut, mual, konstipasi, atau gangguan pencernaan.
Rosuvastatin diproses di hati dan saluran cerna. Perubahan dalam metabolisme asam empedu dan fungsi pencernaan mungkin sementara mengiritasi sistem pencernaan.
Anda harus mengonsumsi obat ini pada waktu yang sama setiap hari, minum cairan yang cukup, makan banyak serat makanan, dan menghindari makan makanan berlemak yang sangat besar jika mengalami ketidaknyamanan pencernaan.
Sebagian besar gejala pencernaan hilang ketika tubuh Anda menyesuaikan diri dengan obat.
5. Peningkatan enzim hati
Hati adalah lokasi utama aktivitas rosuvastatin.
Pada persentase kecil pengguna obat, sel-sel hati menjadi sementara teriritasi, yang menyebabkan peningkatan kadar ALT dan AST.
Peningkatan enzim hati yang berlangsung lebih dari tiga kali batas atas rentang normal terjadi pada sekitar 0,5% hingga 2% orang yang mengkonsumsi obat Crestor (rosuvastatin).
Kegagalan hati yang disebabkan oleh rosuvastatin sangat jarang terjadi.
Hindari konsumsi alkohol yang berlebihan karena alkohol dapat meningkatkan stres pada hati.
6. Peningkatan kadar gula darah dan diabetes
Obat statin tampaknya sedikit mengurangi sensitivitas insulin dan dapat sedikit mengganggu sekresi insulin pada beberapa orang.
Meski demikian, manfaat kardiovaskular biasanya melebihi risiko diabetes.
Risiko ini rendah. Penelitian memperkirakan bahwa 1 dari 255 orang yang diobati dengan rosuvastatin selama empat tahun akan mengembangkan diabetes.
Untuk mengurangi risiko ini, Anda harus memiliki gaya hidup sehat, berolahraga secara teratur, menjaga berat badan yang sehat, dan membatasi karbohidrat olahan. Pantau kadar gula darah jika Anda berisiko diabetes; ikuti janji kontrol secara rutin.
7. Protein dalam urin
Rosuvastatin terkadang menyebabkan protein muncul dalam urin.
Proteinuria terjadi pada sekitar 1% hingga 3% orang yang mengkonsumsi obat Crestor, khususnya dengan dosis tinggi.
Peneiliti percaya bahwa dalam sebagian besar kasus, penyebabnya adalah perubahan sementara dalam penanganan protein tubulus ginjal, bukan karena obat ini menyebabkan kerusakan ginjal permanen.
Sebagian besar kasus sembuh tanpa pengobatan dan tidak menunjukkan penyakit ginjal progresif.
8. Reaksi alergi
Dalam kasus yang jarang, sistem kekebalan tubuh secara keliru mengenali rosuvastatin sebagai substansi asing dan memicu respons alergi.
Hentikan penggunaan obat segera dan cari perawatan darurat jika Anda mengalami pembengkakan wajah, pembengkakan lidah, kesulitan bernapas, atau ruam kulit yang parah.
9. Masalah memori dan kebingungan
Beberapa orang melaporkan kehilangan ingatan sementara atau kebingungan saat mengonsumsi obat statin.
Peneliti percaya bahwa kolesterol memainkan peran penting dalam membran sel saraf, dan perubahan kecil dalam metabolisme kolesterol otak dapat memengaruhi fungsi kognitif pada beberapa orang.
Bukti yang ada menunjukkan bahwa efek samping kognitif dari obat statin adalah jarang. Sebagian besar kasus yang dilaporkan membaik setelah menghentikan penggunaan obat.
10. Miopati nekrotik imun
Penyakit autoimun langka ini berbeda dari nyeri otot biasa akibat statin karena gejalanya berlanjut setelah obat dihentikan.
Pada individu yang rentan, sistem kekebalan memproduksi antibodi terhadap HMG-CoA reduktase, menyebabkan peradangan otot yang terus berlanjut.
Miopati nekrotik imun terjadi pada 2 hingga 3 orang per 100.000 orang yang diobati dengan statin.
Kelemahan otot yang terus berlanjut setelah menghentikan obat rosuvastatin memerlukan evaluasi segera oleh spesialis. Efek samping ini biasanya diobati dengan obat imunosupresif daripada hanya menghentikan penggunaan obat rosuvastatin.
Siapa yang tidak boleh menggunakan obat Crestor (rosuvastatin)? Apa saja obat alternatifnya?
Obat Crestor sebaiknya tidak digunakan untuk kelompok berikut, kecuali jika spesialis menentukan bahwa manfaatnya melebihi risikonya.
1. Orang dengan penyakit hati aktif
Rosuvastatin diproses terutama oleh hati, dan penyakit hati aktif meningkatkan risiko cedera hati.
Bagi orang-orang ini, obat alternatif dapat berupa:
- Ezetimibe. Obat ini mengurangi penyerapan kolesterol usus dan memiliki efek minimal pada hati dibandingkan dengan obat statin.
- Obat inhibitor PCSK9 (seperti alirocumab atau evolocumab). Obat-obat ini secara substansial mengurangi kolesterol LDL dan cocok untuk banyak orang yang tidak dapat mengonsumsi obat statin karena kekhawatiran terkait hati.

2. Wanita hamil
Obat statin dapat mengganggu sintesis kolesterol. Kolesterol penting untuk perkembangan janin yang normal.
Obat biasanya dihentikan selama kehamilan. Jika pengobatan kolesterol menjadi perlu untuk wanita hamil berisiko tinggi, obat pengikat asam empedu seperti kolestiramin dapat dipertimbangkan, karena tidak diserap ke dalam aliran darah, tetapi supervisi spesialis sangat penting.
3. Wanita menyusui
Belum diketahui apakah jumlah rosuvastatin yang signifikan secara klinis masuk ke dalam ASI atau tidak, dan kolesterol penting untuk perkembangan bayi.
Dokter umumnya merekomendasikan untuk menunda terapi statin hingga menyusui selesai. Dalam situasi langka di mana terapi penurun lipid tidak dapat ditunda, konsultasi dengan spesialis diperlukan untuk menimbang manfaat kardiovaskular ibu terhadap risiko untuk bayi.
4. Orang dengan cedera otot berat yang terkait dengan statin sebelumnya
Orang yang sebelumnya mengalami rabdomiolisis atau miopati nekrotik imun memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami komplikasi otot berulang.
Bagi orang-orang ini, obat alternatif dapat berupa:
- Ezetimibe
- Obat inhibitor PCSK9
- Inclisiran
- Asam bempedoik.
Obat-obat ini menurunkan kolesterol LDL melalui mekanisme yang tidak melibatkan inhibisi HMG-CoA reduktase pada otot rangka.
5. Orang dengan hipersensitivitas berat terhadap rosuvastatin
Pasien yang pernah mengalami anafilaksis atau reaksi alergi serius lainnya sebaiknya tidak mengonsumsi obat rosuvastatin lagi.
Bagi orang-orang ini, terapi penurun lipid alternatif seperti ezetimibe, obat inhibitor PCSK9, asam bempedoik, atau obat pengikat asam empedu mungkin sesuai, tergantung pada risiko kardiovaskular, target kolesterol LDL, dan kondisi medis lainnya.
Crestor (rosuvastatin) adalah salah satu obat statin yang paling efektif untuk menurunkan kolesterol LDL dan mencegah serangan jantung serta stroke. Kebanyakan orang mentolerir obat ini dengan baik, dan efek samping umum seperti sakit kepala, gejala pencernaan ringan, atau nyeri otot dapat dikelola. Reaksi merugikan yang serius—termasuk rabdomiolisis, cedera hati yang signifikan, reaksi alergi yang parah, dan miopati nekrotik imun—jarang terjadi tetapi memerlukan perhatian medis segera.


