Kaki dan tungkai kita melakukan ribuan gerakan kecil setiap hari, jadi ketidaknyamanan yang kadang-kadang dapat terjadi bahkan ketika Anda sehat. Misalnya, kejang betis setelah berolahraga memiliki penyebab yang sederhana. Namun, kram betis yang berulang disertai dengan sensasi kesemutan atau mati rasa pada kaki layak mendapat perhatian lebih, karena kedua gejala ini kadang-kadang menunjukkan masalah yang melibatkan saraf, otot, sirkulasi darah, cairan tubuh, atau metabolisme.

Kram betis adalah pemendekan otot betis secara tiba-tiba, tidak terduga, dan menyakitkan yang terjadi pada satu atau lebih otot betis. Kram biasanya terjadi saat atau setelah aktivitas fisik atau saat Anda tidur di malam hari. Otot betis yang kaku, dehidrasi, gangguan elektrolit, beberapa obat, gangguan saraf, dan beberapa kondisi medis dapat berkontribusi pada kram yang berulang.
Sensasi kesemutan adalah sensasi abnormal seperti sensasi ditusuk, sensasi terbakar, atau berkurangnya sensasi. Masalah saraf perifer adalah penyebab penting, terutama apabila gejala secara bertahap muncul di kaki dan kemudian bergerak naik ke kaki. Diabetes adalah salah satu penyebab paling umum dari kerusakan saraf perifer.
Memiliki kedua gejala ini tidak selalu berarti Anda memiliki penyakit serius. Mereka bisa terjadi karena alasan yang relatif sederhana, tetapi gejala yang terus menerus atau memburuk harus dinilai oleh profesional kesehatan.
Penyebab kram betis yang sering dan kesemutan pada kaki
1. Neuropati perifer
Neuropati perifer terjadi ketika saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang menjadi rusak atau tidak berfungsi. Kerusakan saraf sensorik dapat menghasilkan sensasi kesemutan, sensasi ditusuk, mati rasa, atau sensitivitas abnormal di kaki. Kerusakan yang melibatkan saraf motorik dapat menyebabkan kelemahan otot dan kadang-kadang kram otot.
Oleh karena itu, Anda dapat mengalami kram betis dan kesemutan pada kaki karena gangguan saraf dapat memengaruhi baik sensasi maupun kontrol otot. Anda mungkin pertama kali merasakan sensasi kesemutan di jari kaki sekaligus mengalami kram betis atau kelemahan otot betis.
Diabetes adalah penyebab yang sangat penting. Neuropati perifer diabetes sering kali dimulai di kaki dan kaki dan dapat menyebabkan sensasi kesemutan, sensasi terbakar, kram, nyeri, mati rasa, dan kelemahan otot. Gejala bisa lebih terlihat di malam hari.
Penyebab lain dari neuropati perifer termasuk kerusakan saraf akibat alkohol, kekurangan vitamin, penyakit ginjal, penyakit hati, kelenjar tiroid yang kurang aktif, penyakit autoimun, infeksi, beberapa obat kemoterapi, racun, gangguan bawaan, dan cedera fisik.
2. Tingkat rendah kalsium, magnesium, atau kalium
Elektrolit adalah mineral yang membantu saraf berkomunikasi dengan otot dan memungkinkan otot berkontraksi dan rileks secara normal. Tingkat rendah kalsium, magnesium, atau kalium dapat berkontribusi pada kram otot.
Kalsium rendah adalah penyebab umum. Hipokalsemia dapat menyebabkan kram otot dan spasme serta sensasi kesemutan di jari dan kaki. Tingkat kalsium yang sangat rendah dapat menyebabkan spasme otot yang lebih parah dan masalah neurologis lainnya.
Kedua gejala terjadi bersamaan karena tingkat mineral yang abnormal dapat membuat saraf menjadi terlalu mudah terangsang sambil juga mengganggu kontraksi otot yang normal. Penyebab tingkat mineral yang abnormal termasuk beberapa gangguan ginjal, obat-obatan, kekurangan vitamin, muntah, diare, berkeringat berlebih, dan kondisi lain yang mengganggu keseimbangan cairan atau mineral.
Anda tidak boleh langsung mengasumsikan bahwa Anda memerlukan suplemen magnesium atau kalium. Mengonsumsi dosis suplemen yang berlebihan juga dapat membahayakan, dan pengobatan yang tepat bergantung pada tingkat mineral Anda yang sebenarnya dalam darah dan penyebab yang mendasari.
3. Dehidrasi dan berkeringat berlebihan
Kehilangan terlalu banyak cairan melalui olahraga berat, cuaca panas, muntah, diare, atau berkeringat berlebihan meningkatkan risiko kram otot. Kehilangan cairan juga dapat disertai dengan kehilangan elektrolit, yang dapat lebih meningkatkan iritabilitas otot.
Sensasi kesemutan terjadi bersamaan ketika dehidrasi disertai dengan kelainan elektrolit. Misalnya, kehilangan kalsium, magnesium, atau kalium yang signifikan dapat mengganggu sinyal saraf normal dan fungsi otot.
Namun, sensasi kesemutan yang terus terjadi setelah Anda pulih dari dehidrasi tidak boleh otomatis dikaitkan dengan dehidrasi. Penyebab lain, seperti neuropati perifer, mungkin perlu diselidiki.
4. Kompresi saraf di punggung bawah atau kaki
Sebuah saraf dapat teriritasi atau tertekan oleh masalah tulang belakang, cedera, pembengkakan, atau kelainan struktural lainnya. Saraf yang tertekan dapat menyebabkan nyeri, sensasi kesemutan, mati rasa, kelemahan otot, dan kram otot di area yang dikendalikan oleh saraf tersebut.
Misalnya, masalah yang melibatkan akar saraf di punggung bawah dapat menyebabkan sensasi abnormal yang meluas dari punggung atau bokong ke kaki dan kaki. Jika saraf yang terpengaruh juga mengendalikan otot betis, sinyal saraf yang abnormal dapat berkontribusi pada spasme atau kram otot.
Gejala yang disebabkan oleh kompresi saraf sering kali lebih menonjol di satu sisi dan dapat berubah dengan posisi tertentu atau gerakan.
5. Penyakit arteri perifer

Penyakit arteri perifer terjadi ketika arteri yang memasok darah ke kaki mengalami penyempitan, mengurangi aliran darah. Gejala khasnya adalah nyeri kaki atau kram kaki yang berulang saat berjalan atau berolahraga yang membaik setelah Anda berhenti dan istirahat.
Berkurangnya pasokan darah dapat mempengaruhi baik otot maupun saraf. Otot yang tidak menerima cukup oksigen selama aktivitas dapat menjadi sakit atau kram, sementara sirkulasi yang tidak memadai dapat berkontribusi pada disfungsi saraf dan sensasi abnormal seperti mati rasa atau sensasi kesemutan.
Jika kram betis Anda muncul secara konsisten setelah berjalan jarak tertentu dan hilang setelah beristirahat, Anda harus mengatur penilaian medis daripada menganggap bahwa masalahnya hanyalah kelelahan otot.
6. Beberapa obat
Beberapa obat dapat berkontribusi pada kram otot. Contohnya termasuk beberapa obat yang digunakan untuk menurunkan kolesterol (atorvastatin, simvastatin, rosuvastatin, pravastatin), obat diuretik (hidroklorotiazid, klorthalidone, furosemid, bumetanid), beberapa obat yang mempengaruhi tekanan darah (amlodipin, metoprolol, atenolol, lisinopril, losartan), dan beberapa obat lainnya.
Beberapa obat juga dapat menyebabkan kerusakan saraf perifer. Kemoterapi adalah contoh penting, dan beberapa obat lainnya dapat mempengaruhi fungsi saraf.
Kram betis dan sensasi kesemutan pada kaki dapat disebabkan oleh satu obat yang mempengaruhi otot dan saraf, atau oleh obat yang menyebabkan gangguan elektrolit yang kemudian mempengaruhi kedua sistem.
Jangan berhenti mengonsumsi obat yang diresepkan sendiri. Jika gejala Anda dimulai setelah mulai, berhenti, atau mengubah obat, beri tahu dokter Anda.
7. Kelenjar tiroid kurang aktif
Kelenjar tiroid yang kurang aktif dapat terkait dengan kram otot dan masalah saraf perifer.
Tingkat hormon tiroid yang rendah dapat mengubah fungsi otot dan saraf. Oleh karena itu, Anda mungkin mengalami kekakuan otot atau kram otot bersamaan dengan sensasi abnormal di kaki.
Gejala lain yang menunjukkan kelenjar tiroid kurang aktif termasuk kelelahan yang tidak biasa, merasa sangat dingin, sembelit, perubahan berat badan, dan refleks yang melambat. Tes darah dapat membantu menentukan apakah disfungsi tiroid berkontribusi pada gejala.
8. Penyakit ginjal atau hati
Penyakit ginjal dan hati dapat menyebabkan kram otot dan masalah saraf perifer. Penyakit ginjal dapat mengganggu tingkat elektrolit dan mineral, sedangkan akumulasi produk limbah metabolisme dapat menyebabkan kerusakan saraf. Neuropati perifer sangat umum terjadi di kalangan orang yang menjalani dialisis untuk penyakit ginjal lanjut.
Penyakit hati dan konsumsi alkohol dalam jumlah besar juga dapat terkait dengan kram otot yang berulang dan kerusakan saraf.
Kedua gejala ini dapat terjadi melalui beberapa jalur, termasuk gangguan elektrolit, perubahan metabolik, kekurangan nutrisi, dan kerusakan saraf secara langsung.
9. Kekurangan vitamin
Kekurangan vitamin tertentu dapat merusak saraf perifer. Kekurangan vitamin B12 adalah penyebab umum neuropati dan dapat menghasilkan sensasi kesemutan dan mati rasa di kaki.
Masalah nutrisi juga dapat berkontribusi pada gejala otot. Ketika suatu kekurangan mempengaruhi sinyal saraf normal dan fungsi otot, sensasi kesemutan dan kram dapat muncul bersamaan.
Diet yang seimbang biasanya menyediakan nutrisi yang diperlukan, tetapi kekurangan vitamin dapat terjadi akibat diet yang terbatas, penyerapan yang buruk, gangguan gastrointestinal (misalnya: penyakit celiac, penyakit Crohn, kolitis ulseratif, dan gastritis kronis), beberapa obat (misalnya: metformin, obat penghambat pompa proton seperti omeprazole, dan obat antikonvulsan seperti fenitoin), atau kondisi medis lainnya (misalnya: penyakit ginjal kronis, penyakit hati kronis, dan alkoholisme). Pengujian darah membantu mengidentifikasi kekurangan vitamin.
10. Aktivitas fisik yang berlebihan atau tidak biasa
Olahraga intens dapat menyebabkan kram betis selama aktivitas atau dalam beberapa jam berikutnya. Otot betis yang kaku, kondisi fisik yang tidak memadai, lama duduk, dan peningkatan mendadak dalam olahraga meningkatkan kemungkinan terjadinya kram.
Olahraga itu sendiri tidak menyebabkan sensasi kesemutan yang persisten di kaki. Namun, aktivitas berat yang digabungkan dengan dehidrasi, kehilangan elektrolit, atau kompresi saraf sementara dapat menghasilkan kedua gejala tersebut.
Jika sensasi kesemutan terus berlanjut saat Anda beristirahat atau sering terjadi tanpa kaitan dengan olahraga, penjelasan lain harus dipertimbangkan.
Kapan Anda perlu pergi melihat dokter?
Kedua gejala kram betis dan sensasi kesemutan di kaki perlu dievaluasi secara medis jika gejala tersebut terus kembali, semakin parah, mengganggu tidur Anda, atau tidak memiliki penjelasan yang jelas.
Atur janji dengan dokter jika:
- Anda memiliki kram betis berulang yang disertai sensasi kesemutan yang persisten, sensasi terbakar, atau mati rasa.
- Anda mengalami sensasi kesemutan yang secara bertahap menyebar dari kaki ke kaki.
- Anda mengalami kelemahan otot, kesulitan berjalan, keseimbangan buruk, atau sering jatuh.
- Anda mengalami gejala yang mempengaruhi kedua kaki tanpa penyebab sementara yang jelas.
- Kram betis berulang terjadi saat Anda berjalan dan membaik saat Anda beristirahat.
- Kedua gejala muncul setelah Anda mulai mengonsumsi atau mengubah obat.
- Kram yang berulang sangat mengganggu tidur Anda.
- Kedua gejala ini menjadi persisten meskipun sudah cukup terhidrasi, aktivitas yang wajar, dan regangan yang teratur.
Rasa mati rasa yang tiba-tiba di seluruh kaki, terutama jika disertai dengan kelemahan, kelumpuhan, kebingungan, kesulitan berbicara, pusing, atau sakit kepala yang parah, memerlukan penilaian medis darurat.
Anda juga perlu mencari perhatian medis segera untuk betis yang nyeri dan bengkak, terutama ketika pembengkakan dan gejala lebih banyak terjadi di satu sisi. Trombosis vena dalam dapat menyebabkan kram atau nyeri di satu betis bersamaan dengan pembengkakan, kehangatan, dan perubahan warna kulit.
Jika nyeri atau pembengkakan betis terjadi bersamaan dengan nyeri dada atau sesak napas, segera cari perawatan medis darurat karena bekuan darah dapat berpindah ke paru-paru dan menyebabkan emboli paru yang mengancam jiwa.


