Demam hay, juga dikenal sebagai rhinitis alergi, adalah kondisi umum yang menyebabkan bersin, hidung meler atau tersumbat, mata gatal, dan iritasi tenggorokan. Demam hay disebabkan oleh reaksi alergi terhadap alergen yang terbang di udara seperti serbuk sari, tungau debu, atau kulit hewan. Jika Anda mengalami gejala demam hay, Anda sering kali dapat mengelolanya secara efektif dengan obat-obatan yang tersedia tanpa resep. Artikel ini merekomendasikan obat over-the-counter terbaik untuk mengobati demam hay.

Obat terbaik tanpa resep untuk mengobati demam hay
Obat antihistamin
Obat antihistamin adalah obat yang paling umum digunakan untuk demam hay. Obat-obatan ini menghambat histamin — suatu zat kimia yang dilepaskan oleh sistem kekebalan Anda sebagai respons terhadap alergen.
1. Loratadine (nama dagang: Clarityn, Loratyn, Claritin, Alavert)
Loratadine adalah obat antihistamin generasi kedua yang secara selektif menghalangi reseptor H1. Obat ini mengurangi bersin, hidung meler, mata gatal, dan gatal di tenggorokan.

Penggunaan: Loratadine cocok untuk meredakan gejala demam hay di siang hari. Obat ini tidak efektif dalam mengatasi hidung tersumbat.
Kelebihan:
- Loratadine tidak menyebabkan kantuk pada sebagian besar orang.
- Obat ini memiliki efek yang tahan lama (24 jam).
- Aman untuk penggunaan sehari-hari.
Kekurangan:
- Loratadine mungkin tidak mengatasi hidung tersumbat.
- Dalam kasus yang jarang terjadi, obat ini dapat menyebabkan sakit kepala atau mulut kering.
Cara penggunaan:
Minum 10 mg sekali sehari, dengan atau tanpa makanan. Hindari mengonsumsi lebih dari dosis yang dianjurkan.
2. Cetirizine (nama dagang: Zirtek, Reactine, Zyrtec)
Cetirizine juga merupakan obat antihistamin generasi kedua. Obat ini menghalangi reseptor H1 dan membantu mengendalikan bersin, gatal di hidung, dan hidung meler.

Penggunaan: Cetirizine bekerja cepat dan mungkin lebih efektif daripada loratadine untuk beberapa gejala.
Kelebihan:
- Obat ini memiliki efek cepat (dalam 1 jam).
- Obat ini tidak menyebabkan kantuk pada sebagian besar orang.
- Obat ini baik untuk gejala sedang hingga parah.
Kekurangan:
- Cetirizine dapat menyebabkan kantuk pada beberapa orang.
- Obat ini mungkin berinteraksi dengan alkohol dan sedatif.
Cara penggunaan:
Minum 10 mg sekali sehari. Hati-hati jika Anda mengoperasikan mesin atau mengemudikan mobil, terutama saat pertama kali menggunakan obat ini.
3. Fexofenadine (nama dagang: Telfast, Allegra)
Fexofenadine adalah obat antihistamin generasi kedua yang menghalangi reseptor H1 perifer tanpa melewati sawar darah-otak, sehingga tidak menyebabkan kantuk.

Penggunaan: Fexofenadine sangat ideal untuk digunakan di siang hari ketika Anda perlu tetap waspada. Obat ini efektif untuk semua gejala utama demam hay.
Kelebihan:
- Obat ini tidak menyebabkan kantuk pada sebagian besar orang.
- Obat ini sangat ditoleransi.
- Obat ini memiliki efek tahan lama.
Kekurangan:
- Obat ini tidak terlalu efektif dalam mengurangi hidung tersumbat.
- Obat ini mungkin tidak bekerja dengan baik jika dikonsumsi bersamaan dengan jus buah (mengurangi penyerapan).
Cara penggunaan:
Orang dewasa harus mengonsumsi 120 mg atau 180 mg sekali sehari, dalam keadaan perut kosong dengan air.
4. Chlorphenamine (nama dagang: Piriton, Chlor-Trimeton)
Chlorphenamine adalah obat antihistamin generasi pertama yang melewati otak dan menyebabkan sedasi. Obat ini menghalangi reseptor histamin secara lebih luas.

Penggunaan: Obat ini paling baik digunakan untuk mengurangi gejala di malam hari atau ketika Anda mengalami kesulitan tidur karena demam hay.
Kelebihan:
- Obat ini bisa membantu Anda tidur.
- Obat ini efektif untuk hidung meler dan bersin.
Kekurangan:
- Obat ini menyebabkan kantuk.
- Obat ini memiliki durasi efek yang lebih pendek (4–6 jam).
- Obat ini dapat menyebabkan mulut kering atau penglihatan kabur.
Cara penggunaan:
Orang dewasa dapat mengonsumsi 4 mg setiap 4–6 jam, tidak melebihi 24 mg per hari.
Obat kortikosteroid hidung
Obat kortikosteroid hidung mengurangi peradangan di saluran hidung. Obat-obatan ini sangat berguna jika Anda memiliki hidung tersumbat, hidung terblokir, atau gejala kronis.
5. Semprotan hidung fluticasone (nama dagang: Pirinase, Flixonase, Flonase)
Fluticasone adalah obat kortikosteroid yang mengurangi peradangan, pembengkakan, dan produksi lendir di saluran hidung.

Penggunaan: Obat ini sangat efektif untuk hidung tersumbat, bersin, dan hidung meler. Dibutuhkan beberapa hari untuk mencapai efek penuh.
Kelebihan:
- Anda bisa menggunakan obat ini dalam waktu lama.
- Obat ini bekerja baik pada gejala hidung.
- Obat ini tidak menyebabkan kantuk.
Kekurangan:
- Anda perlu menggunakan obat ini setiap hari.
- Memerlukan waktu 2–3 hari untuk efek penuh.
- Obat ini dapat menyebabkan mimisan atau iritasi tenggorokan jika disalahgunakan.
Cara penggunaan:
Untuk orang dewasa, semprotkan 1–2 semprotan ke setiap lubang hidung sekali sehari.
6. Semprotan hidung mometasone (nama dagang: Nasonex)
Mometasone adalah obat kortikosteroid lain yang mengurangi peradangan hidung dan sekresi lendir.

Penggunaan: Mometasone cocok untuk gejala demam hay yang persisten atau parah, terutama jika obat antihistamin saja tidak cukup.
Kelebihan:
- Anda hanya perlu menggunakan obat ini sekali sehari.
- Hanya sedikit dari obat ini yang diserap ke dalam aliran darah.
- Obat ini efektif untuk pengendalian gejala jangka panjang.
Kekurangan:
- Obat ini tidak cepat mengurangi gejala.
- Obat ini dapat menyebabkan efek samping ringan seperti tenggorokan sakit atau hidung kering.
Cara penggunaan:
Semprotkan 2 semprotan ke setiap lubang hidung sekali sehari, kemudian kurangi menjadi 1 semprotan per lubang hidung setelah gejala terkontrol.
Dekongestan
Dekongestan meredakan hidung tersumbat dengan mempersempit pembuluh darah di jaringan hidung. Namun, obat-obatan ini sebaiknya digunakan hanya untuk waktu yang singkat.
7. Semprotan hidung oxymetazoline (nama dagang: Otrivine, Nasivin, Afrin)
Oxymetazoline adalah dekongestan hidung yang bekerja dengan mengecilkan pembuluh darah yang bengkak di saluran hidung.

Penggunaan: Oxymetazoline dengan cepat meredakan hidung tersumbat, tetapi tidak efektif untuk bersin atau gatal di hidung.
Kelebihan:
- Obat ini bekerja cepat (dalam beberapa menit).
- Obat ini sangat berguna di malam hari.
Kekurangan:
- Obat ini sebaiknya hanya digunakan dalam 3–5 hari.
- Risiko hidung tersumbat kembali jika obat ini digunakan berlebihan.
- Obat ini dapat menyebabkan hidung kering.
Cara penggunaan:
Semprotkan 1–2 semprotan ke setiap lubang hidung dua kali sehari dengan maksimum 3 hari berturut-turut.
Tetes mata untuk mata gatal atau berair
Jika demam hay menyebabkan gejala mata, tetes mata antihistamin atau stabilisator sel mast dapat membantu.
8. Tetes mata ketotifen (nama dagang: Zaditen, Zaditor, Alaway)
Ketotifen adalah obat antihistamin dan stabilisator sel mast. Obat ini mengurangi peradangan mata dan mencegah pelepasan mediator alergi.

Penggunaan: Ketotifen meredakan mata merah, gatal, dan berair akibat demam hay.
Kelebihan:
- Obat ini bekerja dalam hitungan menit.
- Obat ini memiliki efek tahan lama (hingga 12 jam).
- Obat ini aman untuk digunakan setiap hari.
Kekurangan:
- Obat ini dapat menyebabkan penglihatan kabur sementara.
- Obat ini tidak membantu untuk gejala hidung.
Cara penggunaan:
Teteskan 1 tetes di setiap mata dua kali sehari. Jangan menggunakan lensa kontak saat menggunakan obat ini.
Saran dari kami:
- Gabungkan obat jika perlu: Anda bisa dengan aman menggunakan obat antihistamin non-kantuk bersamaan dengan semprotan hidung kortikosteroid dan tetes mata.
- Hindari alergen yang diketahui: Tutup jendela selama musim serbuk sari tinggi dan cucilah tangan setelah berada di luar ruangan.
- Mulai mengambil obat lebih awal: Jika demam hay Anda musiman, mulailah mengonsumsi obat 1–2 minggu sebelum gejala mulai.
- Ikuti petunjuk dengan seksama: Selalu baca label produk dan berbicaralah dengan apoteker jika ragu.
Obat-obatan yang dijual bebas dapat meredakan gejala demam hay jika digunakan dengan benar. Jika gejala Anda parah, terus-menerus, atau tidak kunjung membaik dengan obat yang dijual bebas, konsultasikan dengan dokter Anda untuk pilihan lebih lanjut.


