Oxycodone (OxyContin) adalah obat analgesik opioid yang kuat yang diresepkan dokter untuk mengobati nyeri ringan hingga parah. Obat ini biasanya digunakan setelah operasi besar, cedera traumatis, atau untuk kondisi nyeri jangka panjang seperti nyeri kanker. Dokter juga dapat meresepkan oxycodone ketika obat pereda nyeri yang lebih lemah, seperti asetaminofen atau obat antiinflamasi non-steroid, tidak dapat mengontrol rasa sakit Anda.

Oxycodone (OxyContin) bekerja secara efektif karena ia bertindak langsung pada jalur sinyal rasa sakit di otak dan sumsum tulang belakang. Mekanisme ini memungkinkan obat untuk mengurangi persepsi rasa sakit dan meningkatkan kemampuan Anda untuk berfungsi selama pemulihan atau selama penyakit kronis. Namun, mekanisme ini juga mempengaruhi beberapa sistem lain di dalam tubuh, yang mengarah pada efek samping.
Nama dagang umum dari obat oxycodone adalah:
- OxyContin
- Roxicodone
- Oxaydo
- Endocodone
- Percocet (oxycodone yang dikombinasikan dengan asetaminofen)
- Percodan (oxycodone yang dikombinasikan dengan aspirin).
Formulasi pelepasan berkepanjangan seperti OxyContin memberikan pereda nyeri selama sekitar 12 jam, sementara formulasi pelepasan segera memberikan pereda nyeri selama sekitar 5 jam.
Mekanisme kerja obat oxycodone (OxyContin)
Oxycodone meredakan nyeri dengan bertindak pada reseptor opioid di sistem saraf.
Tubuh kita memiliki beberapa reseptor opioid. Reseptor yang paling penting untuk oxycodone adalah reseptor mu opioid, yang terletak di otak, sumsum tulang belakang, dan saraf tepi.
Ketika oxycodone terikat pada reseptor ini, beberapa efek biologis terjadi.
Pengurangan transmisi sinyal nyeri
Sinyal nyeri biasanya bergerak dari jaringan yang terluka melalui saraf ke sumsum tulang belakang dan kemudian ke otak. Aktivasi reseptor mu opioid menghambat pelepasan neurotransmitter dari sel saraf. Tindakan ini mengurangi transmisi sinyal nyeri di sumsum tulang belakang.
Perubahan persepsi rasa sakit di otak
Oxycodone (OxyContin) juga mempengaruhi wilayah otak yang mengontrol respons emosional terhadap nyeri. Tindakan ini mengurangi perasaan tidak menyenangkan yang terkait dengan nyeri.
Efek pada sistem tubuh lainnya
Reseptor mu opioid juga terdapat di saluran pencernaan, pusat pernapasan batang otak, pusat muntah, dan pusat kontrol pupil. Aktivasi reseptor ini menghasilkan efek samping khas dari obat opioid.
Efek samping obat oxycodone (OxyContin)
Oxycodone dapat menyebabkan banyak efek samping karena reseptor opioid terdapat di berbagai organ.
Efek samping oxycodone (OxyContin) adalah:
- Konstipasi
- Mual
- Muntah
- Kantuk
- Pusing
- Depresi pernapasan (pernapasan lambat)
- Gatal
- Berpeluh
- Sakit kepala
- Tekanan darah rendah
- Mulut kering
- Retensi urin
- Kebingungan
- Obat menjadi kurang efektif seiring waktu
- Ketergantungan pada obat
- Kecanduan terhadap obat.
Beberapa efek samping ini terjadi secara sering, sementara efek samping lainnya jarang tetapi berbahaya.
Selanjutnya, kami akan menjelaskan efek samping dan memberikan panduan tentang cara menghindari atau menguranginya.

1. Konstipasi
Konstipasi adalah efek samping yang paling umum dari oxycodone (OxyContin).
Studi klinis menunjukkan bahwa sekitar 50% pasien yang mengonsumsi obat opioid mengalami konstipasi.
Reseptor opioid terdapat di sistem saraf usus. Ketika oxycodone mengaktifkan reseptor ini, kontraksi otot usus menjadi lebih lemah, pergerakan usus melambat, dan penyerapan air dari tinja meningkat.
Kombinasi ini menyebabkan tinja keras dan kesulitan saat buang air besar.
Anda dapat mengurangi konstipasi yang disebabkan oleh opioid dengan beberapa langkah:
- Minum setidaknya 1,5 hingga 2 liter air per hari
- Meningkatkan asupan serat dalam diet
- Menjaga aktivitas fisik bila memungkinkan
- Gunakan obat pelunak tinja atau obat pencahar jika dokter merekomendasikannya
- Beberapa pasien memerlukan obat yang dirancang khusus untuk konstipasi akibat opioid, seperti naloxegol.
Dokter sering merekomendasikan pengobatan pencegahan karena konstipasi jarang membaik dengan sendirinya saat Anda mengonsumsi obat opioid.
2. Mual dan muntah
Mual dan muntah sering terjadi ketika Anda mulai mengonsumsi obat oxycodone.
Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 30% pasien mengalami mual pada minggu pertama.
OxyContin (oxycodone) merangsang zona pemicu kemoreseptor di batang otak. Wilayah otak ini mendeteksi racun dalam darah dan mengaktifkan refleks muntah.
Obat ini juga memperlambat pengosongan lambung. Pergerakan makanan yang lambat meningkatkan rasa mual.
Anda dapat mengurangi rasa mual dengan mengonsumsi obat oxycodone bersamaan dengan makanan, memulai dengan dosis yang lebih rendah, menggunakan obat anti-mual jika perlu, dan menghindari gerakan tubuh yang tiba-tiba.
Efek samping ini seringkali berkurang dalam beberapa hari saat tubuh Anda beradaptasi dengan obat.
3. Kantuk dan sedasi
Banyak pasien merasa mengantuk setelah mengonsumsi obat OxyContin (oxycodone).
Sekitar 22% pasien mengalami kantuk yang signifikan.
Oxycodone menekan aktivitas saraf di sistem saraf pusat, sehingga mengurangi kewaspadaan dan memperlambat waktu reaksi.
Untuk mengurangi kantuk, Anda sebaiknya:
- Menghindari konsumsi alkohol
- Menghindari obat sedatif seperti benzodiazepin
- Mengambil dosis terendah yang efektif.
Anda juga harus menghindari mengemudikan kendaraan atau menggunakan mesin.
Efek samping ini sering kali menurun setelah beberapa hari.
4. Depresi pernapasan
Depresi pernapasan adalah efek samping yang paling berbahaya dari oxycodone (OxyContin).
Depresi pernapasan yang parah terjadi pada kurang dari 1% pasien, tetapi komplikasi ini dapat mengancam jiwa.
Oxycodone menekan pusat pernapasan di batang otak, yang biasanya merespons kadar karbon dioksida dalam darah.
Ketika penekanan ini terjadi, pernapasan menjadi lambat, napas menjadi dangkal, dan kadar oksigen dalam darah menurun.
Komplikasi ini terutama berbahaya selama overdosis.
Anda dapat mencegah risiko ini dengan:
- mengonsumsi hanya dosis yang diresepkan
- menghindari alkohol
- menghindari obat tidur
- menghindari obat opioid lainnya
- memberitahu dokter jika Anda memiliki penyakit paru-paru.
Dokter kadang-kadang meresepkan kit penyelamat naloxone bagi pasien yang menerima terapi opioid jangka panjang.
5. Gatal
Kira-kira 6% pasien mengalami gatal saat mengonsumsi obat OxyContin (oxycodone).
Penyebabnya adalah oxycodone merangsang pelepasan histamin dari sel-sel imun. Histamin menyebabkan gatal pada kulit, kemerahan, atau ruam ringan.
Anda dapat mengurangi rasa gatal dengan mengonsumsi obat antihistamin jika dokter merekomendasikan, menurunkan dosis oxycodone, atau beralih ke obat opioid lain jika rasa gatal menjadi parah.
6. Ketergantungan dan kecanduan obat
Pemakaian oxycodone (OxyContin) jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan dan kecanduan pada obat ini.
Kira-kira 10% pasien yang menerima terapi opioid jangka panjang mengembangkan gangguan penggunaan opioid.
Oxycodone mengaktifkan jalur penghargaan dopamin di otak. Aktivasi berulang dari jalur ini memperkuat perilaku pencarian obat dan menghasilkan dorongan psikologis.
Pajanan jangka panjang terhadap oxycodone juga menyebabkan neuroadaptasi, yang membuat obat menjadi kurang efektif seiring waktu dan menyebabkan gejala penarikan saat Anda berhenti mengonsumsi obat.
Anda dapat mengurangi risiko kecanduan terhadap obat dengan:
- menggunakan obat hanya saat diresepkan
- menghindari peningkatan dosis tanpa nasihat medis
- menggunakan obat opioid untuk durasi terpendek yang mungkin
- mendiskusikan obat pereda nyeri non-opioid dengan dokter Anda.
Siapa yang tidak boleh menggunakan obat OxyContin (oxycodone)?
Oxycodone (OxyContin) tidak aman untuk semua orang. Dokter menghindari penggunaan obat ini untuk kelompok berikut:
1. Orang dengan masalah pernapasan yang parah
Orang dengan kondisi seperti asma parah, penyakit paru obstruktif kronis, atau sleep apnea sudah memiliki kapasitas pernapasan yang berkurang. Oxycodone dapat semakin menekan pernapasan dan meningkatkan risiko depresi pernapasan yang fatal.
Untuk orang-orang ini, dokter mungkin merekomendasikan obat alternatif seperti:
- asetaminofen
- obat antiinflamasi non-steroid seperti ibuprofen
- obat pereda nyeri saraf seperti gabapentin.
Obat-obat ini tidak menekan pusat pernapasan di otak.
2. Orang dengan riwayat kecanduan opioid
Riwayat gangguan penggunaan opioid sebelumnya sangat meningkatkan risiko kambuh.
Untuk orang-orang ini, dokter mungkin merekomendasikan obat alternatif seperti:
- obat pereda nyeri non-opioid
- obat antidepresan pereda nyeri seperti duloxetine
- terapi fisik atau teknik blok saraf.
Opsi-opsi ini meredakan rasa sakit tanpa mengaktifkan jalur penghargaan.
3. Orang dengan penyakit hati parah
Hati memetabolisme oxycodone. Kerusakan hati yang parah dapat menyebabkan akumulasi obat yang berbahaya dalam darah.
Untuk orang-orang ini, dokter sering memilih obat dengan jalur metabolisme yang lebih aman, seperti:
- fentanyl (dengan pengawasan medis yang hati-hati)
- asetaminofen pada dosis yang lebih rendah
- teknik pengobatan nyeri regional.


