Peningkatan frekuensi berkemih dan penurunan berat badan yang tidak terduga adalah dua gejala yang dapat menunjukkan adanya penyakit yang mungkin belum Anda deteksi. Gejala ini bisa terjadi bersamaan akibat berbagai penyakit, mulai dari gangguan metabolisme hingga keganasan. Artikel ini akan memberikan informasi tentang penyebab peningkatan frekuensi berkemih dan penurunan berat badan yang tidak terduga serta cara mendiagnosis dan mengobati kondisi ini.
Penyakit apa yang menyebabkan peningkatan frekuensi berkemih dan penurunan berat badan yang tidak terduga?
Salah satu penyakit berikut ini dapat menyebabkan Anda berkemih lebih sering dan kehilangan berat badan tanpa disadari.
1. Diabetes
Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingkat glukosa darah yang tinggi dalam jangka waktu yang lama. Terdapat dua jenis utama diabetes: Tipe 1 dan Tipe 2. Pada kedua tipe tersebut, gejala utama dapat berupa poliuria (peningkatan frekuensi berkemih) dan penurunan berat badan yang tidak terjelaskan.

Pada diabetes, tingginya kadar gula darah menyebabkan fenomena yang dikenal sebagai diuresis osmotik. Ketika glukosa berlebihan hadir dalam urin, ia menarik air, yang mengakibatkan peningkatan volume urin. Proses ini dapat mengakibatkan dehidrasi, yang kemudian merangsang respons haus, menyebabkan polidipsia (peningkatan rasa haus).
Penurunan berat badan yang tidak terduga pada diabetes terutama disebabkan oleh tubuh yang tidak dapat menggunakan glukosa secara efisien sebagai sumber bahan bakar. Ketidak efisienan ini dapat terjadi karena hormon insulin tidak ada (Tipe 1) atau sel-sel resisten terhadap insulin (Tipe 2). Akibatnya, tubuh mulai memecah protein dari otot dan lemak dari cadangan lemak untuk digunakan sebagai sumber energi alternatif, yang menyebabkan penurunan berat badan.
Diabetes didiagnosis melalui tes darah yang mengukur kadar glukosa. Tes ini dapat mencakup tes glukosa puasa, tes toleransi glukosa oral, atau tes hemoglobin A1C.
Pengobatan untuk diabetes mencakup modifikasi gaya hidup, seperti diet dan olahraga, serta obat-obatan (insulin untuk tipe 1, dan obat oral atau insulin untuk tipe 2) untuk mengontrol kadar glukosa darah.
2. Hipertiroidisme
Hipertiroidisme adalah kondisi di mana kelenjar tiroid memproduksi jumlah hormon tiroid yang berlebihan. Produksi berlebih ini dapat mempercepat metabolisme tubuh, menyebabkan peningkatan frekuensi berkemih dan penurunan berat badan yang tidak terduga.

Peningkatan frekuensi berkemih bukanlah gejala langsung dari hipertiroidisme tetapi bisa terjadi akibat peningkatan asupan cairan karena rasa haus yang berlebihan. Rasa haus yang berlebihan adalah gejala umum lainnya dari hipertiroidisme. Rasa haus berlebihan ini terjadi akibat peningkatan keringat dan metabolisme yang meningkat.
Penurunan berat badan pada hipertiroidisme terjadi karena tiroid yang terlalu aktif mempercepat metabolisme tubuh, menyebabkan tubuh membakar kalori dengan lebih cepat.
Hipertiroidisme didiagnosis dengan menguji kadar hormon perangsang tiroid (TSH) dan tiroksin dalam darah Anda. Kadar TSH yang rendah dan kadar tiroksin yang tinggi menunjukkan tiroid yang terlalu aktif.
Opsi pengobatan untuk hipertiroidisme meliputi yodium radioaktif, obat antitiroid, beta-blockers, dan operasi.
3. Penyakit ginjal kronis
Penyakit ginjal kronis adalah kondisi yang ditandai dengan kehilangan fungsi ginjal secara bertahap seiring waktu. Ketika ginjal tidak berfungsi dengan baik, produk limbah dan cairan berlebih dapat menumpuk di dalam tubuh.

Pada tahap awal penyakit ginjal kronis, ginjal memproduksi lebih banyak urin untuk mengkompensasi kapasitas penyaringan yang berkurang, yang mengakibatkan peningkatan frekuensi berkemih. Proses ini dapat mengakibatkan dehidrasi, yang kemudian merangsang respons haus.
Penurunan berat badan yang tidak disengaja pada penyakit ginjal kronis dapat terjadi akibat kurangnya nafsu makan atau mual, yang merupakan gejala umum dari penyakit ini. Tubuh juga dapat memecah jaringan otot dan cadangan lemak untuk energi, yang menyebabkan penurunan berat badan.
Penyakit ginjal kronis didiagnosis dengan tes darah untuk mengukur kadar kreatinin dan urea, dan tes urin untuk mengidentifikasi kelainan yang menunjukkan kerusakan ginjal kronis. Tes pencitraan dan biopsi ginjal mungkin juga dilakukan.
Pengobatan untuk penyakit ginjal kronis adalah mengatasi penyebabnya (seperti mengontrol kadar gula darah pada diabetes), memperlambat progresi kerusakan ginjal, dan mengobati komplikasi. Pada tahap lanjut, dialisis atau transplantasi ginjal mungkin diperlukan.
Anda perlu mencari nasihat medis ketika mengalami gejala seperti peningkatan frekuensi berkemih dan penurunan berat badan yang tidak terduga. Gejala ini bisa menjadi tanda adanya kondisi kesehatan yang serius yang memerlukan perhatian segera. Bicaralah dengan profesional medis untuk diagnosis dan pengobatan yang akurat dan efektif.


