Kehamilan membawa risiko yang lebih tinggi untuk mengalami keracunan makanan. Keracunan makanan bisa menjadi pengalaman yang menakutkan bagi wanita hamil. Ada banyak risiko yang datang dengan keracunan makanan selama kehamilan.
Perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan dapat mengubah sistem kekebalan tubuh wanita, membuatnya lebih rentan terhadap keracunan makanan.

Keracunan makanan dapat terjadi setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung bakteri, virus, parasit, atau kontaminan lainnya.
Keracunan makanan selama periode kehamilan dapat mengakibatkan bahaya bagi bayi, persalinan prematur, kehilangan kehamilan, atau bahkan kelahiran mati. Namun, ada banyak cara untuk mencegah atau mengatasi keracunan makanan.
Artikel ini akan menjelaskan gejala keracunan makanan selama kehamilan, bahaya yang ditimbulkan, serta membahas metode pengobatan dan pencegahan.
Gejala keracunan makanan
Gejala keracunan makanan meliputi:
- perut tidak nyaman
- kram perut
- mual
- muntah
- diare
- demam
Waktu timbulnya gejala dapat bervariasi tergantung pada kapan seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dan jenis keracunan makanan yang dialami.
Jenis keracunan makanan juga dapat menghasilkan gejala yang bervariasi. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), berikut adalah jenis-jenis keracunan makanan beserta gejalanya:
Infeksi Listeria
Wanita hamil 10 kali lebih mungkin terkena infeksi Listeria daripada orang biasa. Gejala dapat muncul antara satu minggu hingga satu bulan. Gejala dapat meliputi:
- demam
- nyeri otot
- nyeri kepala
- kelelahan
Infeksi Salmonella
Gejala Salmonella dapat muncul antara 6 jam hingga 6 hari setelah terpapar makanan yang terkontaminasi, dan dapat meliputi:
- nyeri perut
- muntah
- diare
- mual
Infeksi Norovirus
Gejala Norovirus biasanya mulai muncul 12–48 jam setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Gejala Norovirus meliputi:
- kram perut
- diare
- muntah
- mual
Infeksi E. coli (Escherichia coli)
Seseorang dapat mulai mengalami gejala E. coli 3–4 hari setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Gejala ini dapat meliputi:
- kram perut
- muntah
- diare
Infeksi Staph (Staphylococcus aureus)
Gejala Staph dapat muncul dengan cepat, antara 30 menit hingga 8 jam setelah seseorang mengonsumsi makanan yang terpengaruh. Gejala dapat meliputi:
- mual
- muntah
- kram perut
- diare
Kondisi medis dengan gejala serupa
Ada beberapa kondisi medis lain yang dapat memberikan gejala yang mirip dengan keracunan makanan.
Keracunan makanan atau gastroenteritis?
Gastroenteritis sangat menular dan dapat menyebar dengan mudah dari satu orang ke orang lain. Ini adalah peradangan usus. Makanan atau minuman yang terkontaminasi dapat menyebabkan gastroenteritis, tetapi penyebab utama biasanya adalah infeksi bakteri atau virus.
Keracunan makanan biasanya tidak menular. Seseorang hanya akan mengalami keracunan makanan pada saat yang sama dengan orang lain jika mereka memakan makanan yang terkontaminasi yang sama.
Keracunan makanan atau mual pagi?
Mual pagi juga menyebabkan gejala yang mirip dengan keracunan makanan. Seorang wanita dengan mual pagi mungkin mengalami gejala selama 12 minggu pertama kehamilan, meskipun gejala dapat muncul kapan saja.
Risiko keracunan makanan bagi wanita hamil
Keracunan makanan dapat berbahaya bagi janin serta ibu. Ini dapat menyebabkan masalah kesehatan serius bagi anak, kehilangan kehamilan, persalinan prematur, kelahiran mati, atau bahkan kematian ibu hamil.
Janin yang berkembang perlu mendapatkan sebanyak mungkin nutrisi dari ibu. Jika ibu tidak dapat mempertahankan makanan dalam tubuhnya cukup lama agar tubuh dapat menyerap nutrisi, janin mungkin tidak tumbuh dengan baik.
Seorang wanita dengan gejala ringan bisa menularkan infeksi kepada janinnya selama kehamilan, sementara dia mungkin tidak mengetahui bahwa dia mengalami keracunan makanan.
Bayinya yang baru lahir juga dapat mengalami masalah kesehatan, bahkan dapat lahir dengan keracunan makanan jika ibunya mengalami infeksi.
Mengatasi keracunan makanan di rumah
Sementara wanita hamil sebaiknya selalu mengunjungi dokter jika mereka mengalami gejala keracunan makanan, ada beberapa hal yang bisa mereka lakukan di rumah untuk membantu juga.
Makanan
Seringkali sulit bagi seseorang untuk merasa ingin makan apapun saat mengalami keracunan makanan. Namun, seorang wanita hamil perlu makan untuk menjaga stamina dan memastikan dia cukup makan untuk dirinya dan janin. Sebaiknya makan makanan yang hambar dan rendah lemak yang akan membantu menjaga perut tetap tenang.
Makanan yang bisa mereka konsumsi meliputi:
- kerupuk asin
- roti panggang
- saus apel
- kentang tumbuk
- beras rebus
Minuman
Seseorang dengan keracunan makanan memiliki risiko tinggi mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, memastikan mereka cukup minum sangat penting. Mereka bisa meminum:
- air putih
- jus buah yang diencerkan dengan air
- minuman olahraga yang mengandung elektrolit
- kaldu
Larutan atau garam rehidrasi oral juga dapat membantu menggantikan glukosa dan elektrolit. Minuman ini terdiri dari air dengan tambahan garam dan glukosa yang membantu tubuh untuk rehidrasi.
Obat alami
Jahe memiliki sifat yang meredakan mual dan muntah. Teh jahe dapat membantu mengurangi gejala.
Kapan Anda perlu menghubungi dokter?
Seorang wanita hamil perlu menghubungi dokter jika ia curiga mengalami keracunan makanan. Meskipun kebanyakan orang akan pulih dari keracunan makanan tanpa perlu mencari perhatian medis, wanita hamil juga harus mempertimbangkan kesehatan janin.
Seorang wanita hamil harus segera menghubungi dokter jika ia memiliki gejala-gejala berikut:
- suhu tubuh di atas 102 derajat F (38.9 derajat C)
- dara dalam tinja
- diare yang berlangsung lebih dari 3 hari
- pusing
- mulut atau tenggorokan kering
- muntah yang sering
Mencegah keracunan makanan
Meski risiko keracunan makanan selama kehamilan bisa menakutkan, ada cara untuk mencegahnya.
Jenis makanan yang harus dihindari
Keracunan makanan dapat berasal dari berbagai produk makanan yang berbeda, tetapi ada langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengurangi risikonya. Contohnya:
Daging dan unggas
Selalu pastikan bahwa daging ini dimasak dengan baik. Tindakan ini akan menurunkan risiko terjadinya keracunan makanan. Termometer daging dapat membantu seseorang memeriksa apakah daging telah mencapai suhu internal minimum yang aman. Misalnya, seseorang harus memasak daging sapi atau daging babi hingga setidaknya 145 derajat F (63 derajat C).
Sayuran
Sayuran yang tidak dicuci dan sayuran mentah dapat menyebabkan seseorang mengalami keracunan makanan. Pastikan untuk mencuci semua sayuran dengan hati-hati.
Telur
Mengonsumsi telur mentah atau setengah matang meningkatkan risiko seseorang terhadap penyakit yang ditularkan melalui makanan. Telur yang dipasteurisasi memiliki risiko lebih rendah.
Susu
Susu yang tidak dipasteurisasi dapat meningkatkan risiko keracunan makanan pada wanita hamil. Keju yang dibuat dengan susu tidak dipasteurisasi juga dapat menimbulkan risiko.
Seafood
Wanita hamil sebaiknya menghindari ikan mentah atau setengah matang, seperti sushi. Seafood yang dimasak dan ikan kaleng serta seafood kaleng memiliki risiko lebih rendah untuk menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui makanan.
Jenis makanan lain yang sebaiknya dihindari oleh wanita hamil meliputi:
- tunas mentah
- salad
- pâté
Seorang wanita hamil juga harus menghindari daging deli dan hot dog kecuali makanan ini dimasak hingga suhu 165 derajat F (74 derajat C) atau lebih.
Tips keamanan makanan
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan empat tips keamanan makanan untuk mencoba menghindari keracunan makanan:
Bersihkan semua alat
Pastikan bahwa semua alat bersih sebelum menyiapkan makanan. Persyaratan ini mencakup mencuci tangan, membersihkan peralatan dan talenan. Tindakan ini dapat menurunkan risiko kontaminasi.
Membilas buah dan sayuran segar di bawah air mengalir dapat menghilangkan kuman yang dapat menyebabkan keracunan makanan.
Pisahkan peralatan dan makanan
Hindari kontaminasi silang dengan memastikan bahwa semua peralatan yang bersentuhan dengan makanan mentah tidak kemudian menyentuh makanan yang sudah dimasak atau siap untuk dimakan.
Jaga agar daging mentah, unggas, seafood, dan telur terpisah dari makanan lain saat berbelanja dan setelah kembali ke rumah, dari penyimpanan di lemari es hingga persiapan makanan.
Masak makanan hingga matang
Gunakan termometer untuk menentukan apakah suhu internal makanan cukup tinggi untuk membunuh kuman yang dapat menyebabkan keracunan makanan.
Bekukan makanan
Bekukan makanan yang mudah rusak sesegera mungkin, pastikan lemari es tetap pada suhu 40 derajat F (4 derajat C) atau lebih rendah. Cairkan makanan beku di dalam lemari es, air dingin, atau microwave. Ketika makanan dicairkan di atas meja, bakteri dapat berkembang biak dengan cepat di bagian mana pun dari makanan yang mencapai suhu ruangan.


