Urine berwarna oranye disertai dengan nyeri perut dapat menandakan kondisi serius seperti penyakit hati, obstruksi saluran empedu, atau masalah ginjal. Meskipun dehidrasi atau diet dapat menyebabkan urine berwarna oranye, kombinasi dengan nyeri perut lebih mengkhawatirkan dan harus dievaluasi oleh dokter.

Mengapa urine Anda menjadi oranye?
Warna urine bergantung pada pigmen yang diekskresikan oleh ginjal. Urine biasanya berubah menjadi oranye dengan dua cara:
- Urine yang terkonsentrasi, karena Anda tidak cukup minum, yang meningkatkan pigmen normal dan membuat warnanya lebih gelap.
- Kehadiran pigmen yang biasanya tidak terdapat dalam urine, seperti bilirubin terkonjugasi dari hati atau molekul obat berwarna yang tertelan atau diberikan melalui injeksi.
Nyeri di perut mungkin merupakan masalah terpisah atau terkait langsung dengan penyebab pigmen abnormal tersebut.
Penyakit yang biasanya menyebabkan urine berwarna oranye dengan nyeri perut
1. Ikterus obstruktif dan batu empedu (penyumbatan saluran empedu)

Batu empedu atau tumor dapat menyumbat saluran empedu yang mengangkut empedu dari hati ke usus. Ketika empedu tidak bisa mengalir, bilirubin terkonjugasi terakumulasi dalam darah dan muncul dalam urine. Bilirubin terkonjugasi dapat larut dalam air dan memberikan urine warna amber gelap atau oranye. Penyumbatan ini juga sering menyebabkan nyeri hebat di bagian atas kanan perut atau di tengah atas perut ketika kandung empedu atau saluran empedu meradang atau meregang. Anda mungkin juga mengalami kulit kuning atau tinja pucat.
Batu empedu terbentuk ketika komponen empedu menjadi tidak seimbang. Batu dapat bergerak dan terjebak di saluran empedu. Tumor atau jaringan parut juga dapat menyempit atau memblokir saluran tersebut.
Diagnosis dan pengobatan:
Dokter memeriksa tes darah hati (termasuk bilirubin), melakukan USG pada bagian atas perut, dan mungkin menggunakan pemeriksaan endoskopik yang disebut kolangiopancreatografi retrograde endoskopik jika mereka perlu mengeluarkan batu atau memasang stent. Perawatan tergantung pada penyebabnya: pengangkatan kandung empedu untuk batu yang berulang, pengangkatan batu saluran secara endoskopik, atau operasi serta perawatan onkologis jika tumor menjadi penyebab penyumbatan. Obstruksi parah dengan infeksi memerlukan perawatan darurat di rumah sakit.
2. Hepatitis akut dan masalah hati lainnya
Ketika hati meradang, ia dapat kehilangan kemampuan untuk memproses bilirubin. Bilirubin terkonjugasi dapat bocor ke dalam urine dan membuatnya berwarna amber gelap atau oranye. Hepatitis virus, kerusakan hati akibat obat, dan peradangan hati terkait alkohol yang parah dapat menyebabkan nyeri di bagian atas perut, mual, dan urine gelap.
Penyebab: Infeksi virus, racun, alkohol, dan beberapa obat dapat merusak sel-sel hati atau aliran empedu yang menyebabkan peningkatan bilirubin.
Diagnosis dan pengobatan:
Dokter melakukan tes fungsi hati, serologi virus, pencitraan, dan terkadang biopsi hati. Perawatan difokuskan pada penyebab spesifik: terapi antivirus untuk virus yang dapat diobati, penghentian obat yang menjadi penyebab, perawatan suportif dan pemantauan untuk komplikasi.
3. Porfiria akut (serangan porfiria akut)
Beberapa kondisi metabolik langka yang disebut porfiria akut menyebabkan serangan nyeri perut yang parah dan kram disertai mual, sembelit, dan terkadang urine berwarna gelap, merah-coklat, atau oranye. Perubahan warna urine terjadi karena prekursor kimia porfirin diproduksi berlebihan dan diekskresikan dalam urine. Serangan porfiria akut dapat menyebabkan nyeri perut hebat tanpa tanda-tanda jelas pada pemeriksaan fisik.
Penyebab: Cacat genetik pada enzim yang membuat heme menyebabkan akumulasi prekursor porfirin; faktor-faktor seperti obat tertentu, puasa, alkohol, perubahan hormonal, atau infeksi dapat memicu serangan.
Diagnosis dan pengobatan:
Dokter menguji urine untuk porfobilinogen dan porfirin selama serangan. Perawatan memerlukan perhatian medis segera: rawat inap, glukosa dan karbohidrat untuk menekan jalur abnormal, dan hemin intravena dalam kasus parah. Mencegah pemicu dan tindak lanjut oleh spesialis sangat penting.
4. Beberapa obat dan pewarna
Beberapa obat mengandung molekul berwarna yang masuk ke dalam urine dan membuatnya menjadi oranye atau kemerahan. Contohnya termasuk antibiotik rifampin yang digunakan untuk tuberkulosis dan analgesik urine fenazopyridine. Perubahan warna ini biasanya tidak berbahaya. Rifampin dan obat serupa juga dapat mewarnai cairan tubuh lainnya. Fenazopyridine dapat membuat urine berwarna merah-oranye dan mungkin menyebabkan gangguan perut di beberapa orang. Jika Anda mengonsumsi obat yang menyebabkan urine berwarna oranye, warna biasanya akan kembali normal setelah Anda menghentikan obat tersebut.
5. Infeksi saluran kemih dan peradangan kandung kemih atau peradangan ginjal dengan perdarahan
Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nyeri di perut bagian bawah atau pinggang dan menghasilkan perubahan warna urine yang terlihat. Jika urine mengandung darah atau pigmen inflamasi, warnanya dapat tampak oranye, merah, atau coklat tergantung konsentrasi. Infeksi ginjal menyebabkan tanda-tanda sistemik seperti demam dan nyeri pinggang.
Diagnosis dan pengobatan:
Dokter melakukan tes urine untuk mencari infeksi dan darah, dan mungkin menggunakan pencitraan jika mereka mencurigai adanya batu ginjal atau abses. Perawatan biasanya mencakup antibiotik dan cairan yang sesuai. Jika Anda hamil, Anda memerlukan perawatan segera.
6. Dehidrasi dan urine terkonsentrasi
Jika Anda tidak cukup minum, urine Anda akan menjadi terkonsentrasi dan tampak lebih gelap, amber, atau oranye. Dehidrasi juga dapat menyebabkan kram perut, sembelit, dan ketidaknyamanan secara umum. Rehidrasi biasanya akan menghilangkan warna urine dan meredakan kram perut ringan.
Minumlah cairan oral dengan elektrolit dan natrium jika Anda merasa pusing atau belum berkemih selama beberapa jam. Cari perawatan medis jika Anda tidak bisa menahan cairan, mengalami pusing parah, atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi berat.
Kesimpulannya, urine berwarna oranye disertai nyeri perut bisa tidak berbahaya ketika diakibatkan oleh obat atau dehidrasi sementara, tetapi kedua gejala tersebut juga dapat menunjukkan masalah hati atau saluran empedu, infeksi, atau kondisi metabolik langka yang memerlukan perawatan segera. Jika Anda memiliki tanda-tanda yang mengkhawatirkan seperti nyeri hebat, demam, kulit kuning, tinja pucat, pingsan, sangat sedikit urine, atau jika perubahan warna tidak cocok dengan obat atau makanan yang baru Anda konsumsi, segeralah menemui dokter atau pergi ke rumah sakit.


