Keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri Bacillus cereus

Bacillus cereus (B. cereus) adalah bakteri berbentuk batang, Gram-positif, fakultatif anaerob, bergerak, beta-hemolitik, dan dapat membentuk spora. Bakteri ini biasanya terdapat di tanah dan makanan.

Bacillus cereus adalah patogen yang ditularkan melalui makanan yang dapat memproduksi racun. Racun ini menyebabkan dua jenis penyakit gastrointestinal: sindrom emetik dan sindrom diare. Ketika racun emetik (cereulide) dihasilakan dalam makanan, muntah akan terjadi setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Sindrom diare terjadi ketika enterotoksin diproduksi di usus setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh B. cereus.

Gejala keracunan makanan akibat Bacillus cereus

Gejalanya meliputi:

Sindrom Emetik

  • muntah
  • mual
  • kadang-kadang diare

Gejala biasanya mulai muncul 0,5 hingga 5 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Umumnya, gejala hilang dalam waktu 6 hingga 24 jam.

Sindrom Diare

  • diare, kadang-kadang disertai darah dan/atau lendir
  • mual
  • juga dapat disertai nyeri perut

Gejala biasanya mulai muncul 8 hingga 16 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Umumnya, gejala hilang dalam waktu 12 hingga 24 jam.

Dalam beberapa kasus, penyakit ini dapat lebih parah. Jika Anda mengalami gejala serius, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.

Penyebab

B. cereus tersebar luas di lingkungan dan umumnya ditemukan di tanah. Bacillus cereus mampu menghasilkan spora yang tahan terhadap panas dan kekeringan, sehingga peneliti dapat mengisolasinya dari makanan mentah maupun makanan yang dimasak. Spora ini akan berkecambah menjadi bentuk vegetatif B. cereus dan tumbuh jika makanan disimpan dalam kondisi pH yang menguntungkan (>>4.8) dan suhu (antara 8°C hingga 55°C) selama waktu yang cukup. Meskipun keberadaan bentuk vegetatif B. cereus dalam makanan selalu diperlukan agar penyakit dapat terjadi, tidak semua strain B. cereus dapat memproduksi racun yang menyebabkan sindrom emetik atau diare. Selain itu, kondisi yang menyebabkan masing-masing sindrom sedikit berbeda.

Sindrom emetik akan memengaruhi konsumen makanan yang terkontaminasi dengan cereulide, sehingga makanan perlu terkontaminasi dengan strain B. cereus yang mampu memproduksi racun ini dan ditangani dengan cara yang memungkinkan pertumbuhan bakteri dan pembentukan racun berikutnya. Diperkirakan, untuk memproduksi cukup cereulide untuk memicu muntah, tingkat B. cereus harus lebih besar dari 10.000 per gram makanan. Racun ini diproduksi dalam makanan dan tahan terhadap panas; oleh karena itu, tidak akan dihilangkan oleh sebagian besar metode memasak, bahkan ketika sel vegetatif dinonaktifkan. Sindrom ini seringkali terkait dengan makanan kaya pati, seperti pasta atau nasi.

Sindrom diare terjadi ketika sejumlah besar sel vegetatif B. cereus (setidaknya 10.000 per gram makanan) tertelan dan menghasilkan enterotoksin di usus halus. Berbagai jenis makanan telah dikaitkan dengan sindrom diare, seperti produk daging, rebusan, sup, saus, sayuran, dan produk susu.

Keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri Bacillus cereus
Bakteri Bacillus cereus

Diagnosis

Keracunan makanan yang disebabkan oleh B. cereus dapat dikonfirmasi dengan mengisolasi bakteri ini dalam sampel makanan, tinja, atau muntah.

Pengobatan keracunan makanan akibat Bacillus cereus

Kebanyakan orang pulih dari penyakit ini tanpa pengobatan. Pemberian cairan dianjurkan jika diare atau muntah sangat parah. Antibiotik tidak dianjurkan, karena gejala disebabkan oleh racun, bukan oleh bakteri.

Cara mencegah keracunan makanan yang disebabkan oleh Bacillus cereus

Karena B. cereus ada di mana-mana di lingkungan, langkah-langkah pengendalian harus difokuskan pada mencegah pertumbuhan B. cereus dan pembentukan racun emetik dalam makanan.

  • Anda harus menyimpan makanan pada suhu di atas 60°C, atau mendinginkan makanan pada suhu di bawah 4°C.
  • Ketika memanaskan kembali makanan, pastikan suhu mencapai setidaknya 74°C.
spot_imgspot_img

Artikel Terkait

spot_img

Artikel Terbaru